Batik Pesisir Madura, Batiknya Orang Pesisir

Batik Pesisir Madura

Batik Madura umumnya dikategorikan sebagai Batik Pesisir. Dan seringkali Batik Pesisir digambarkan sebagai batik madura yang dihiasi warna-warna yang cerah, “berani “, serta motif yang dinamis. Namun ada juga Batik Pesisir berwarna gelap, lembut, serta bermotif pola yang berulang-ulang; lebih dekat ke ciri-ciri Batik Solo dan Yogyakarta

Pemberian ciri ini sesungguhnya merupakan cerminan dari dikotomi Batik Jawa, yaitu Batik Pesisir dan batik yang berkembang di seputar keraton-keraton Solo dan Yogyakarta. Namun, bila ditilik lebih dalam, apalagi dengan memperhatikan keanekaragaman nyata- nyata hadir pada zaman sekarang, ciri tersebut tidaklah bersifat mutlak.

Ciri khas Batik Pesisir haruslah dicari pada tingkat pengenalan yang lebih mendalam; pada tingkat ini, kita akan “berhadapan ” dengan orang-orang yang terlibat dalam urusan batik-membatik di daerah-daerah pesisir utara pulau Jawa.

Orang-orang itu adalah Orang Jawa, namun juga mencakup orang-orang keturunan pendatang: Arab, Cina, maupun Eropa Barat, termasuk tentunya Belanda. Apa yang khas dari orang-orang ini adalah interaksinya.

Berbeda dengan interaksi di seputar keraton, interaksi di Pesisir berpusat di pasar. Di sini, orang dengan berbagai latar belakang bangsa dan suku bangsa bertemu untuk mencapai kesepakatan. Ada tawar menawar, ada kompromi, dan berkembanglah kecenderungan untuk menonjolkan apa yang laku dijual.

Kecenderungan ini kemudian berkembang lagi. lndustrialisasi muncul, memberikan tempat di satu sisi bagi produk massal dan di sisi lain ruang bagi individu untuk membesarkan namanya sebagai produsen batik ternama. Teknologi ikut berkembang: dari canting ke cap, dari cap ke sablon, dan dari sablon ke mesin cetak.

Seiring kecenderungan untuk menonjolkan apa yang laku dijual, produsen pun timbul dan tenggelam, silih berganti, dalam hitungan belasan bahkan puluhan tahun.

Namun, ada kecenderungan lain lagi yang berkembang di Pesisir, yaitu hubungan yang erat antara pembatik, penjual batik, serta pemakai batik. Karena pusat interaksinya adalah pasar, hubungan ini bersifat setara dan dinamis.

Kesetaraan di andai oleh norma tawar menawar, sedangkan dinamika ditandai oleh upaya memperoleh posisi yang lebih menguntungkan dalam kegiatan tawar-menawar. Tidak jarang, pihak yang di luar urusan batik memiliki posisi yang lebih tinggi mendorong terjadinya inovasi, terutama dalam hal motif dan teknik.

Akhirnya, dinamika justru menjadi norma Batik Pesisir. Dan norma inilah yang hendak diperlihatkan di dalam Budaya “Batik Madura”. Keanekaragaman motif dan warna yang diperlihatkan menyiratkan dinamika Orang Pesisir sebagai norma Batik Pesisir Madura: ada perbedaan kecil-kecil, ada kemiripan, ada yang berada di luar kebiasaan, semuanya hadir bersama-sama, dalam hubungan yang cair.

 

Batik Pesisir Madura, Batiknya Orang Pesisir

You May Also Like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: